, ,

Polemik Rumah Adat To Rombi di Rantepao, AMAN Tegaskan Bukan Tongkonan

by -3066 Views
cek disini

News RantepaoKegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Semarak Budaya yang digelar di Rantepao, Tana Toraja pada awal Oktober 2025 menarik perhatian publik. Acara ini tidak hanya menghadirkan diskusi tentang pelestarian budaya, tetapi juga menyinggung polemik keberadaan Rumah Adat To Rombi yang belakangan ramai diperbincangkan masyarakat Toraja.

Tongkonan To'Rombi Klaim Didiami 14 Generasi, Kini Dirobohkan - Tribuntoraja.com

Dalam forum tersebut, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tana Toraja menegaskan bahwa rumah adat To Rombi tidak bisa dikategorikan sebagai Tongkonan, rumah adat khas masyarakat Toraja.

Baca Juga : Mahasiswi Unhas Turut Berorasi, Simbol Perempuan Toraja Melawan Eksekusi Tongkonan Ka’pun

Polemik Rumah Adat To Rombi

Rumah Adat To Rombi selama ini digadang-gadang sebagai bagian dari warisan budaya Toraja. Namun, sejumlah tokoh adat dan budayawan menilai klaim tersebut perlu diluruskan.

Perbedaan bentuk arsitektur, fungsi, hingga sejarah To Rombi menjadi dasar perdebatan. Sejumlah pihak menyebut To Rombi tidak memenuhi unsur yang melekat pada Tongkonan, seperti status genealogis, fungsi sosial, dan simbol keagamaan dalam adat Toraja.


Pernyataan Tegas AMAN Tana Toraja

Ketua AMAN Tana Toraja, Markus Limbong, menegaskan dalam Bimtek bahwa klaim To Rombi sebagai Tongkonan dapat menimbulkan kesalahpahaman sejarah.

“Tongkonan bukan sekadar rumah panggung dengan atap khas Toraja. Ia adalah pusat adat, pusat keputusan keluarga besar, dan simbol identitas. To Rombi tidak memenuhi kriteria itu, sehingga tidak tepat disebut Tongkonan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pelurusan informasi ini penting agar generasi muda Toraja memahami secara benar identitas budayanya.


Respon Masyarakat dan Pemerhati Budaya

Polemik ini mendapat beragam tanggapan dari masyarakat Toraja. Sebagian mendukung langkah AMAN untuk meluruskan sejarah, sementara yang lain menilai To Rombi tetap memiliki nilai budaya meski berbeda dari Tongkonan.

Pemerhati budaya, Yuliana Tandiseru, menekankan pentingnya dokumentasi akademis. “Setiap rumah adat punya nilai historis, tetapi kita harus membedakan mana yang termasuk Tongkonan dan mana yang tidak. Jika semua disamakan, identitas budaya Toraja bisa kabur,” ujarnya.


Langkah Pemerintah Daerah

Pemerintah Kabupaten Tana Toraja melalui Dinas Kebudayaan menyambut baik diskusi ini. Mereka menilai klarifikasi soal rumah adat harus berbasis riset dan melibatkan tokoh adat, sejarawan, serta akademisi.

“Polemik ini jangan sampai memecah masyarakat, melainkan harus jadi momentum memperkaya kajian budaya Toraja,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan setempat.


Penutup

Bimtek Semarak Budaya di Rantepao bukan hanya wadah pelatihan, tetapi juga ruang dialog yang mempertemukan masyarakat adat, pemerintah, dan pegiat budaya. Polemik Rumah Adat To Rombi yang ditegaskan bukan Tongkonan oleh AMAN menunjukkan bahwa pelestarian budaya perlu dilandasi pemahaman sejarah yang benar.

Ke depan, diharapkan ada kajian lebih mendalam agar identitas budaya Toraja tetap terjaga tanpa menafikan keberagaman warisan yang ada.

tokopedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.